Kuburan Kulkas di Inggris, 50.000 Unit Menumpuk

Dunia

Lebih dari 50.000 kulkas rusak menumpuk di tempat penampungan di Inggris dan Wales, menunggu untuk diproses. Tumpukan yang dijuluki “kuburan kulkas” itu muncul ketika kapasitas fasilitas daur ulang menyusut, sementara sejumlah pemerintah daerah menghentikan sementara penerimaan atau pengangkutan peralatan tersebut.

Masalahnya bukan sekadar barang bekas yang memenuhi ruang. Di Britania Raya, kulkas dan freezer harus dibuang melalui proses khusus karena kandungan gas dan bahan isolasinya dapat membahayakan lingkungan jika penanganannya keliru.

Penutupan fasilitas memicu penumpukan kulkas

Warga biasanya dapat membawa kulkas lama ke pusat daur ulang, atau meminta pemerintah daerah mengangkutnya dari rumah. Namun, layanan itu terganggu setelah sejumlah perusahaan dan fasilitas pengolahan tutup. Akibatnya, puluhan ribu unit tertahan di tempat penampungan sebelum sempat masuk tahap pengolahan.

Di Norfolk, misalnya, dari 19 pusat daur ulang milik pemerintah daerah, hanya tujuh yang masih beroperasi dan dapat menerima limbah kulkas. Salah satu fasilitas di wilayah itu juga mengalami kebakaran sehingga tidak dapat mengolah sampah tersebut lebih lanjut.

Asosiasi Pemerintah Daerah Inggris (Local Government Association/LGA) menyebut kapasitas pengolahan khusus secara nasional tidak mencukupi. Penutupan fasilitas dan sejumlah insiden, termasuk kebakaran, ikut mempersempit ruang yang tersedia. Pada saat yang sama, beberapa skema kepatuhan produsen—yang mengatur dan mendanai pengumpulan serta daur ulang limbah elektronik—menunda atau menghentikan pengambilan dari fasilitas pemerintah daerah.

Ketika tempat penampungan penuh, sebagian limbah kulkas bahkan dikirim ke Skotlandia atau negara Eropa lain untuk diproses. Pelaku industri memperkirakan kapasitas pengolahan tambahan di Inggris baru akan tersedia pada 2027. Mereka juga menilai investasi jangka panjang dibutuhkan agar sistem pengelolaan limbah lebih tahan menghadapi gangguan.

Risiko lingkungan dan beban pemerintah daerah

Kulkas dan freezer mengandung gas rumah kaca terfluorinasi serta bahan isolasi busa. Jika dibuang tanpa pengolahan yang tepat, bahan-bahan tersebut dapat melepaskan gas berbahaya. Karena itu, peralatan rumah tangga ini tidak bisa diperlakukan seperti sampah biasa dan harus ditangani di fasilitas khusus.

Penumpukan yang berlangsung lama juga menambah pekerjaan dan biaya pemerintah daerah. Anggota LGA, Jon Hubbard, mengatakan pemerintah setempat kini harus mengatur penyimpanan kulkas yang belum terangkut sekaligus menangani dampak lain dari penumpukan tersebut.

“Pemerintah daerah menghadapi masalah berupa penumpukan kulkas dalam jumlah besar. Selain itu, mereka kini harus mengatur penyimpanan kulkas-kulkas tersebut serta menangani segala konsekuensinya,” kata Hubbard, seperti dikutip The Mirror.

Menurut Hubbard, situasi itu menimbulkan pengeluaran tak terduga yang memberi tekanan cukup berat kepada pemerintah daerah. Beban tersebut muncul ketika layanan pengumpulan dan pengolahan belum dapat berjalan normal.

Gelombang panas di Eropa turut menambah jumlah kulkas dan freezer yang perlu dibuang. Dalam cuaca sangat panas, peralatan itu bekerja lebih keras untuk mempertahankan suhu dingin dan menjaga makanan tetap awet. Jika bekerja berat terus-menerus, kulkas dapat lebih cepat rusak.

Warga menunggu layanan pengangkutan dibuka kembali

Dampak persoalan ini dirasakan langsung oleh warga. Karena sejumlah pusat daur ulang tidak menerima kulkas, sebagian orang terpaksa menyimpannya di rumah atau di halaman sambil menunggu layanan pengangkutan kembali tersedia.

Hampir seperempat pemerintah daerah di Wales dilaporkan menangguhkan pengambilan kulkas dan freezer dari rumah warga karena keterbatasan ruang di tempat penampungan. Cardiff termasuk wilayah yang terdampak.

Lee Young, warga Cardiff, mengatakan ia sudah berusaha membuang kulkas-freezer miliknya selama dua bulan. Ia sempat membawa barang itu ke pusat daur ulang pada Juli, tetapi petugas menyatakan kulkas tersebut tidak diterima. Ia kemudian mendapat informasi bahwa pemerintah daerah akan mengambilnya, namun pengangkutan itu juga tidak terlaksana.

“Sejak saat itu, kulkas tersebut terbengkalai di halaman belakang rumahnya. Ia tidak tahu kapan layanan pengambilan oleh pemerintah daerah akan kembali beroperasi,” demikian laporan BBC mengenai kondisi Young.

Di Newport, aktivis sekaligus juru kampanye Partai Konservatif Michael Enea mengaku sering melihat peralatan rumah tangga tua di pinggir jalan. Ia khawatir warga yang tidak memiliki cara untuk membuang kulkas dan freezer pada akhirnya meninggalkan barang-barang itu begitu saja.

Dengan kapasitas tambahan yang diperkirakan baru hadir pada 2027, tumpukan ini berpotensi terus membebani layanan setempat. Penyediaan fasilitas pengolahan dan kesinambungan pengangkutan akan menentukan apakah kulkas-kulkas yang kini tertahan dapat ditangani secara aman—tanpa menambah risiko bagi lingkungan maupun warga.