Christa Pike Selamat dari Eksekusi Suntik Mati di Tennessee

Dunia

Christa Pike, terpidana mati berusia 50 tahun di Tennessee, Amerika Serikat, tetap hidup setelah menjalani eksekusi suntik mati yang gagal. Ia sempat dirawat di rumah sakit sebelum dikembalikan ke penjara. Hingga kini, belum ada penjelasan apakah Pike akan kembali menjalani hukuman mati.

Pengacaranya, Randy Spivey, menjadi salah satu saksi di ruang eksekusi. Ia menggambarkan Pike bersikap tenang dan kooperatif saat tim eksekusi berusaha memasang jalur infus untuk memasukkan obat yang seharusnya mematikan.

Pike membantu petugas mencari pembuluh darah

Menurut Spivey, pemasangan dua jalur infus intravena memakan waktu lebih dari satu jam. Petugas berulang kali menusukkan jarum, sementara Pike mencoba membantu dengan menunjukkan bagian tubuh yang menurutnya mungkin memiliki pembuluh darah.

“Tolong coba di sini,” kata Pike berulang kali. Ia juga menyarankan petugas mencoba bagian bahu yang lebih tinggi. Sikapnya tetap tenang selama proses itu, seperti diceritakan Spivey dan dikutip The Guardian.

Setelah tim menganggap jalur infus yang dipasang berfungsi, proses eksekusi dilanjutkan. Pike bahkan mengucapkan terima kasih kepada para petugas. Spivey menyebut kliennya bersikap baik dan kooperatif.

Obat yang digunakan adalah pentobarbital, obat penenang dalam dosis besar yang biasanya mematikan. Namun, Pike tidak meninggal. Ia disebut menangis, merintih, dan bernapas keras. Sejumlah wartawan yang berada di ruang eksekusi juga mendengar napasnya yang berat dan suara seperti mendengkur.

Terpidana pembunuhan itu sadar kembali

Setelah eksekusi gagal, Pike kembali sadar. Menurut Spivey, ia kemudian mampu berbicara dan berjalan di sekitar ruangan. Pike sempat dibawa ke rumah sakit untuk menjalani perawatan sebelum akhirnya dikembalikan ke penjara.

Spivey mengaku dihantui oleh kejadian yang ia saksikan. Ia mengatakan apa yang terjadi bukan sesuatu yang seharusnya terulang dan menegaskan bahwa eksekusi itu dilakukan atas nama masyarakat.

Pike dijatuhi hukuman mati atas pembunuhan Colleen Slemmer, teman sekelasnya, pada 1995. Saat melakukan pembunuhan itu, Pike berusia 18 tahun. Berdasarkan keterangan dalam laporan tersebut, ia menjadi satu-satunya orang yang diketahui selamat dari eksekusi suntik mati sepenuhnya.

Kondisi medis Pike jadi perhatian

Sebelum pelaksanaan hukuman, tim pengacara Pike pernah meminta agar hukuman mati diganti menjadi penjara seumur hidup tanpa kemungkinan pembebasan bersyarat. Permintaan itu diajukan dengan mempertimbangkan kondisi medis yang dialami Pike, yakni trombositosis.

Kondisi tersebut ditandai jumlah trombosit yang terlalu tinggi dalam darah. Akibatnya, darah dapat lebih mudah menggumpal dan menyumbat pembuluh darah. Pengacara Pike sebelumnya memperingatkan bahwa gumpalan di lokasi suntikan bisa menghambat obat masuk ke pembuluh darah.

Belum diketahui apakah trombositosis berperan dalam kegagalan eksekusi. Penyebab Pike tetap hidup masih diselidiki, sementara dampak kesehatan jangka panjang yang mungkin dialaminya juga belum jelas.

Penyelidikan eksekusi gagal masih berlangsung

Peristiwa itu memicu pemeriksaan terhadap pelaksanaan eksekusi di Tennessee. Komisaris Departemen Pemasyarakatan Tennessee, Frank Strada, mengundurkan diri setelah kejadian tersebut.

Belum ada keterangan mengenai langkah selanjutnya terhadap Pike atau kemungkinan jadwal eksekusi ulang. Penyelidikan diharapkan dapat menjelaskan apa yang terjadi selama prosedur berlangsung, termasuk persoalan jalur infus dan pengaruh kondisi kesehatan Pike. Hasilnya juga akan menjadi perhatian dalam pembahasan mengenai pelaksanaan hukuman mati di negara bagian tersebut.