Dinas Kesehatan Ponorogo memperluas skrining tuberkulosis (TBC) dengan mengerahkan perangkat rontgen portabel ke 21 kecamatan. Upaya ini dilakukan untuk mempercepat penemuan kasus, setelah hingga Agustus-September 2026 tercatat 928 kasus positif dari target 2.499 kasus sepanjang tahun.
Jumlah temuan tersebut masih jauh dari sasaran yang ditetapkan pemerintah pusat. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Ponorogo, Anik Setyarini, mengatakan target tahun ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di kisaran 1.400 kasus.
“Target kita dari 1.400-an itu dinaikkan menjadi 2.499. Sampai dengan yang kemarin, kita baru menemukan 928 yang positif, meskipun terduga sudah banyak yang kita periksa,” kata Anik, Senin (12/10/2026).
X-ray portabel menjangkau 21 kecamatan
Untuk memperluas penjaringan, petugas telah memeriksa 3.572 orang yang diduga mengidap TBC. Dinkes juga menjalankan pencarian kasus secara aktif dengan membawa alat rontgen portabel ke masyarakat, sehingga pemeriksaan tidak hanya menunggu warga datang ke fasilitas kesehatan.
“Kemarin kita aktif case finding-nya dengan ada TBC X-ray muter. Sekarang kita cek TBC di 21 kecamatan dengan portable X-ray,” ujar Anik.
Pemeriksaan aktif tersebut menjadi salah satu cara Dinkes mengejar target penemuan kasus. Warga yang diduga mengalami TBC dapat terjaring melalui kegiatan skrining di wilayahnya, sementara mereka yang membutuhkan penanganan tetap perlu mengikuti pemeriksaan dan arahan tenaga kesehatan.
Namun, peningkatan jangkauan pemeriksaan belum otomatis membuat semua orang bersedia menjalani skrining. Anik menyebut sebagian warga masih enggan memeriksakan diri karena khawatir kondisi kesehatannya diketahui lingkungan sekitar.
“Ketika ada dugaan TBC, mereka tidak mau memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Alasannya malu dengan lingkungan,” ungkap Anik.
Seperempat kasus positif ditemukan pada anak
Keraguan untuk memeriksakan diri menjadi perhatian karena keterlambatan penanganan dapat membuat penularan terus berlangsung, terutama di lingkungan keluarga. Dari 928 kasus positif yang ditemukan di Ponorogo, 254 kasus atau 27,5 persen merupakan anak-anak.
Menurut Anik, anak-anak tersebut rata-rata tertular dari keluarga. Temuan ini menunjukkan pentingnya perhatian terhadap kondisi kesehatan anggota rumah tangga ketika ada dugaan atau kasus TBC, serta perlunya pemeriksaan bagi orang yang berisiko tertular.
Dinkes juga mengoptimalkan pemeriksaan pada anak yang mengalami gangguan pertumbuhan. Balita yang berat badannya tidak bertambah akan diperiksa untuk mencari penyebabnya, termasuk kemungkinan TBC jika masalah asupan gizi bukan satu-satunya faktor yang menjelaskan kondisi tersebut.
Pemeriksaan pada anak menjadi bagian dari upaya menemukan kasus yang mungkin belum terdeteksi. Dinkes mendorong keluarga agar tidak menunda pemeriksaan ketika ada kondisi yang perlu ditelusuri, sehingga penyebab gangguan kesehatan dapat diketahui dan ditangani sesuai hasil pemeriksaan.
Pengobatan TBC harus dijalani sampai tuntas
Selain memperluas skrining, Dinkes mengingatkan pasien agar tidak menghentikan pengobatan saat tubuh mulai terasa lebih baik. Pengobatan TBC umumnya berlangsung selama enam bulan dan harus diselesaikan sesuai petunjuk tenaga medis.
Anik mengatakan sebagian pasien memilih berhenti berobat setelah kondisi membaik. Padahal, rasa sehat setelah menjalani pengobatan selama sekitar satu bulan bukan berarti seluruh tahapan pengobatan telah selesai.
“Rata-rata itu kalau sudah enak, dia putus berobat. Padahal harus tuntas enam bulan. Meskipun setelah satu bulan kondisi sudah membaik, tetap ada tahapan pengobatan yang harus dijalani,” tegasnya.
Dinkes Ponorogo berharap pemeriksaan di 21 kecamatan dan meningkatnya kesadaran warga dapat membantu mempercepat penemuan penderita. Warga yang mengalami gejala atau memiliki kontak erat dengan pasien TBC diimbau memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan agar memperoleh penanganan sesuai kondisinya.
