PSN Pekalongan Digencarkan, Kasus DBD 2026 Turun

Kesehatan

Pemerintah Kota Pekalongan, Jawa Tengah, menggiatkan gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) untuk mencegah peningkatan kasus demam berdarah dengue (DBD). Imbauan ini disampaikan di tengah perubahan cuaca yang dinilai dapat memicu bertambahnya tempat perindukan nyamuk.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Pekalongan Puji Winarni mengatakan masyarakat perlu memberi perhatian pada lingkungan sekitar rumah. Upaya pencegahan, menurut dia, tidak cukup hanya dengan membasmi nyamuk dewasa, tetapi juga perlu menyasar lokasi nyamuk berkembang biak.

“Kondisi cuaca menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan, karena dapat memicu munculnya lebih banyak tempat perindukan nyamuk,” kata Puji di Pekalongan, Jumat. Ia mengingatkan warga agar memutus perkembangbiakan nyamuk sejak dari sumbernya.

Gerakan 3M untuk mencegah sarang nyamuk

Dalam gerakan PSN, Dinkes mengajak masyarakat menerapkan 3M: menguras, mengubur, dan mendaur ulang. Langkah tersebut diarahkan pada benda atau tempat di lingkungan rumah yang berpotensi menjadi lokasi berkembang biaknya nyamuk.

Puji secara khusus menyoroti sampah anorganik yang dapat menampung air. Menurut dia, barang seperti itu sebaiknya didaur ulang, bukan sekadar ditimbun. Kebiasaan memilah dan menangani sampah dengan tepat menjadi bagian dari upaya menjaga lingkungan rumah agar tidak menyediakan tempat perindukan nyamuk.

Pencegahan juga perlu dilakukan secara rutin. Dinkes menilai langkah sederhana di sekitar rumah dapat berperan penting dalam menekan peluang berkembangnya nyamuk penyebab DBD. Karena itu, warga diminta tidak menunggu sampai muncul kasus untuk mulai memeriksa lingkungan.

Tempat penampungan air perlu turut diperhatikan, termasuk yang tampak bersih. Puji menyebut bak mandi dan wadah penampung air lain sebagai contoh lokasi yang bisa menjadi tempat berkembang biak Aedes aegypti, nyamuk yang menjadi penyebab utama DBD.

Tempat air bersih tetap perlu diperiksa

Imbauan tersebut menunjukkan bahwa pemeriksaan tidak hanya perlu diarahkan pada genangan atau sampah yang terlihat kotor. Wadah air di dalam maupun sekitar rumah juga perlu diperhatikan dalam kegiatan PSN, sebab nyamuk dapat berkembang di tempat yang sehari-hari digunakan warga.

Selain mengurangi tempat perindukan, masyarakat dapat menggunakan perlindungan tambahan seperti obat anti-nyamuk dan kelambu. Puji menyarankan perlindungan itu untuk membantu mengurangi risiko gigitan nyamuk, terutama ketika warga berada di lingkungan yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya Aedes aegypti.

Upaya di tingkat rumah tangga tersebut menjadi bagian dari pencegahan yang bisa dilakukan secara berulang. Dinkes mengimbau warga menggabungkan pemberantasan sarang dengan perlindungan diri, bukan hanya mengandalkan satu cara untuk menghindari gigitan atau membasmi nyamuk.

Fogging dilakukan berdasarkan indikasi kasus

Untuk pengasapan atau fogging, Dinkes Kota Pekalongan menerapkan fogging fokus. Penyemprotan tidak dilakukan hanya karena ada laporan banyak nyamuk di suatu wilayah. Pelaksanaannya mempertimbangkan indikasi kasus DBD dan hasil penyelidikan epidemiologis oleh puskesmas di sekitar tempat tinggal penderita.

Puji menjelaskan fogging fokus dapat dilakukan apabila terdapat kasus DBD yang telah terdiagnosis dan penyelidikan epidemiologis menemukan lebih dari satu orang dengan gejala serupa di sekitar lokasi. Dengan demikian, keputusan pengasapan didasarkan pada penilaian risiko di wilayah tersebut.

Penjelasan itu sekaligus menempatkan fogging sebagai salah satu langkah yang dilakukan dengan pertimbangan tertentu, bukan pengganti PSN di lingkungan warga. Pencegahan melalui pemberantasan tempat perindukan tetap perlu berjalan secara rutin, sementara puskesmas menilai kondisi di sekitar lokasi kasus.

Dinkes mencatat terdapat 50 penderita DBD di Kota Pekalongan pada 2026. Jumlah tersebut turun dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai sekitar 80 kasus. Meski angka kasus menurun, Pemkot tetap menggiatkan PSN agar masyarakat waspada terhadap kemungkinan bertambahnya tempat berkembang biak nyamuk seiring perubahan cuaca.

Warga dapat memulai pencegahan dari hal yang dekat: menguras tempat penampungan air, mengelola barang bekas yang berpotensi menampung air, serta menggunakan perlindungan tambahan bila diperlukan. Konsistensi di lingkungan rumah menjadi kunci agar upaya menekan risiko DBD tidak hanya dilakukan ketika kasus mulai ditemukan.