Serangan Jantung pada Usia Produktif: Kenali Gejalanya

Kesehatan

Serangan jantung mendadak juga mengintai kelompok usia produktif, bukan hanya orang lanjut usia. Pakar mengingatkan, gejala awalnya kerap disalahartikan sebagai gangguan lambung, masuk angin, atau kelelahan sehingga pertolongan medis terlambat diberikan.

Dr Masfuri, pakar Ilmu Keperawatan sekaligus Ketua Klaster Riset Acute and Critical Care UI, mengatakan sebagian besar serangan jantung sebenarnya tidak datang tanpa tanda. Namun, rendahnya pemahaman terhadap gejala dapat membuat orang mengabaikan peringatan tubuh dan kehilangan waktu penting untuk memperoleh penanganan.

Risiko keterlambatan ini menjadi perhatian karena penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab kematian nomor satu di dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat hampir 19,8 juta orang meninggal akibat penyakit kardiovaskular pada 2022. Di Indonesia, penyakit jantung dan strok juga termasuk penyebab kematian tertinggi.

Gejala serangan jantung yang kerap dianggap maag

Masfuri memaparkan, salah satu tanda yang perlu diwaspadai adalah nyeri di dada sebelah kiri. Rasa sakitnya dapat terasa seperti ada beban berat yang menekan. Keluhan juga bisa berupa rasa terbakar di ulu hati, yang menjalar hingga rahang, bahu, atau lengan.

Gejala lain yang disebutkan adalah keringat dingin dan sesak napas yang muncul tiba-tiba. Karena rasa tidak nyaman kadang terasa di ulu hati, sebagian orang mungkin mengiranya sebagai masalah lambung. Keluhan itu juga kerap dianggap masuk angin atau sekadar akibat kelelahan setelah beraktivitas.

Kesalahan menafsirkan gejala dapat membuat seseorang menunda mencari pertolongan. Padahal, menurut Masfuri, penundaan selama beberapa menit saja dapat berdampak besar terhadap peluang keselamatan pasien. Karena itu, tanda-tanda tersebut tidak sebaiknya langsung dianggap sebagai keluhan ringan, terutama ketika muncul secara mendadak.

Waktu penanganan berpengaruh pada keselamatan

Masfuri menekankan bahwa serangan jantung umumnya memiliki peringatan, meski tanda yang dirasakan bisa keliru dipahami. Informasi ini penting agar masyarakat tidak hanya mengenali nyeri dada, tetapi juga memperhatikan kemungkinan rasa terbakar di ulu hati yang menjalar, keringat dingin, maupun sesak napas mendadak.

Gejala-gejala itu tidak otomatis memastikan seseorang mengalami serangan jantung. Namun, dalam konteks peringatan yang disampaikan Masfuri, menganggapnya sebagai maag atau kelelahan tanpa mempertimbangkan kemungkinan lain berisiko menunda penanganan. Kecepatan memperoleh pertolongan menjadi hal yang tak boleh diabaikan.

Dalam keterangannya, Masfuri menyatakan, “Sebagian besar kasus serangan jantung sebenarnya tidak terjadi tanpa peringatan, sehingga sering kali pertolongan medisnya terlambat.” Pernyataan itu menggarisbawahi pentingnya memahami tanda awal, sekaligus mengenali bahwa gejalanya tidak selalu dipersepsikan sebagai masalah jantung oleh orang yang mengalaminya.

Beban penyakit kardiovaskular di Indonesia

Data World Heart Federation untuk 2024 menunjukkan sekitar 695.166 kematian akibat penyakit kardiovaskular terjadi di Indonesia. Angka tersebut menambah alasan untuk meningkatkan kesadaran mengenai gejala dan faktor risiko, serta pentingnya penanganan dini.

Besarnya angka kematian tidak berarti setiap nyeri dada merupakan serangan jantung. Namun, data tersebut memperlihatkan bahwa penyakit kardiovaskular merupakan persoalan kesehatan serius. Pemahaman tentang gejala dapat membantu masyarakat lebih tanggap ketika tanda peringatan muncul, alih-alih menunggu keluhan berlalu atau menilainya sebagai gangguan lambung semata.

Masfuri mengingatkan bahwa keterlambatan dan rendahnya pemahaman masyarakat dapat mempersempit peluang keselamatan. Mengenali perubahan pada tubuh—terutama nyeri dada seperti tertindih, rasa terbakar yang menjalar, keringat dingin, dan sesak mendadak—menjadi langkah awal untuk tidak mengabaikan kemungkinan kondisi serius. Kesadaran tersebut penting bagi semua kelompok usia, termasuk mereka yang masih berada dalam usia produktif.