Menjelang evaluasi MSCI pada November 2026, investor ritel perlu menimbang risiko pasar saham dan pilihan instrumen lain. Analis Moh Fendi Susiyanto menyarankan agar investor tetap mengutamakan instrumen pendapatan tetap jangka pendek, sembari mengakumulasi saham secara bertahap dan selektif.
Rekomendasi itu disampaikan dengan melihat pergeseran arus modal sepanjang semester pertama 2026. Tekanan di pasar saham dan reksa dana berjalan beriringan dengan derasnya dana yang masuk ke instrumen moneter serta perbankan domestik. Situasi ini menunjukkan investor belum sepenuhnya menarik dana dari Indonesia, tetapi cenderung berpindah ke aset dengan imbal hasil lebih menarik dan risiko lebih terukur.
Tekanan pasar saham masih membayangi IHSG
Dalam analisis yang diterbitkan InvestorTrust, Fendi mencatat arus keluar dari pasar saham membesar sejak awal tahun. Angkanya tercatat Rp 12,4 triliun pada Januari, meningkat menjadi Rp 54,9 triliun pada April, lalu mencapai Rp 76,8 triliun hingga 10 Juli 2026.
Aksi jual asing, menurut analisis tersebut, dipengaruhi ketidakpastian global dan sentimen pembekuan indeks MSCI Indonesia. Tekanan itu turut membawa IHSG ke level support psikologis 5.300, seiring berkurangnya likuiditas dari investor asing.
Kondisi tersebut menjadi latar penting bagi investor yang menanti evaluasi MSCI November. Namun, data arus modal tidak dengan sendirinya memastikan hasil evaluasi atau arah indeks. Karena itu, investor ritel sebaiknya tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan perkiraan atas satu agenda pasar, melainkan mempertimbangkan profil risiko dan kebutuhan dana masing-masing.
SRBI dan deposito menjadi tujuan peralihan dana
Ketika pasar saham tertekan, instrumen moneter dan simpanan perbankan justru mencatat pertumbuhan. Posisi SRBI meningkat dari Rp 2,61 triliun pada Januari menjadi Rp 139,41 triliun pada Juni, lalu mencapai Rp 152,64 triliun pada 10 Juli. Dana deposito juga naik dari Rp 8,5 triliun pada Januari menjadi Rp 122,5 triliun pada Juli.
Fendi mengaitkan pergeseran itu dengan strategi moneter untuk menahan tekanan terhadap rupiah, termasuk kenaikan BI-Rate dan imbal hasil SRBI yang disebut berada di kisaran 7,4–7,7 persen. Imbal hasil tersebut membuat instrumen berisiko relatif rendah menjadi pilihan menarik bagi pelaku pasar yang memilih bertahan defensif.
Bagi investor ritel, gambaran ini mendukung pendekatan yang tidak menempatkan seluruh dana pada saham. Fendi menyarankan porsi lebih besar pada instrumen pendapatan tetap jangka pendek, seperti SRBI atau reksa dana pasar uang. Pilihan itu dapat dipertimbangkan sesuai tujuan investasi dan toleransi risiko masing-masing, bukan sebagai jaminan keuntungan.
Reksa dana tertekan, SBN mulai pulih
Industri reksa dana juga menghadapi tekanan. Setelah mencatat pertumbuhan Rp 27,13 triliun pada Januari dan Rp 38,31 triliun pada Februari, nilainya bergerak ke teritori negatif dan mencapai Rp minus 30,09 triliun pada Juli 2026. Analisis tersebut menghubungkan penurunan dengan koreksi nilai portofolio saham dan aksi penarikan dana, termasuk perpindahan ke instrumen moneter maupun surat berharga negara.
Berbeda dengan saham, pasar SBN berangsur pulih setelah sempat mencatat arus keluar. Posisi SBN berada di minus Rp 6,17 triliun pada April, kemudian berbalik menjadi Rp 29,33 triliun pada Mei dan mencapai Rp 32,04 triliun pada Juli. Penyesuaian imbal hasil domestik disebut membuat SBN kembali menarik bagi investor institusional.
Atas dasar itu, rekomendasi Fendi mencakup SBN berjangka pendek sebagai bagian dari alokasi pendapatan tetap. Investor tetap perlu memahami tenor, harga, dan risiko perubahan imbal hasil sebelum membeli. Pergerakan pasar yang berbalik cepat juga berarti strategi defensif bukan berarti bebas risiko.
Saham dipilih bertahap, bukan diburu sekaligus
Untuk pasar saham, Fendi menyarankan akumulasi bertahap atau buy on weakness pada saham berkapitalisasi besar yang memiliki dividen tinggi, terutama jika koreksinya dinilai terlalu dalam akibat sentimen MSCI. Pendekatan bertahap dapat membantu investor menghindari keputusan yang bertumpu pada upaya menebak titik terendah pasar.
Meski begitu, label saham unggulan atau pembagian dividen tidak menghapus risiko penurunan harga. Investor perlu menilai kondisi perusahaan dan memastikan dana yang digunakan tidak dibutuhkan dalam waktu dekat. Evaluasi MSCI pada November dapat menjadi salah satu perhatian pasar, tetapi disiplin diversifikasi dan kesesuaian investasi dengan tujuan pribadi tetap penting saat volatilitas meningkat.
Perubahan aliran dana pada paruh pertama 2026 memperlihatkan bahwa pilihan investor tidak terbatas pada bertahan atau keluar dari pasar Indonesia. Menjelang evaluasi MSCI, ritel dapat mencermati perkembangan pasar sambil menyusun portofolio yang seimbang—dan menghindari keputusan terburu-buru berdasarkan sentimen sesaat.
