Harga emas dunia mulai bangkit setelah menyentuh level terendah dalam dua bulan. Pada perdagangan Kamis (8/10/2026), logam mulia itu ditutup menguat 0,59 persen menjadi US$ 4.133,93 per troy ons, merespons kekhawatiran investor terhadap besarnya utang pemerintah Amerika Serikat (AS) dan ketidakpastian arah suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Penguatan tersebut menjadi jeda setelah harga emas anjlok 1,3 persen pada Rabu. Pergerakan positif berlanjut pada Jumat (9/10/2026). Hingga pukul 06.31 WIB, harga emas naik 0,21 persen ke US$ 4.142,55 per troy ons, menurut data Refinitiv.
Di pasar, indeks dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun bertahan di level tinggi selama dua sesi berturut-turut. Namun, kenaikan imbal hasil kali ini juga dibaca sebagai cerminan kekhawatiran terhadap utang AS yang terus bertambah—isu yang dapat mendorong minat terhadap emas.
Utang AS dan daya tarik emas
Nitesh Shah, ahli strategi komoditas di WisdomTree, menilai kekhawatiran mengenai tingkat utang yang tinggi dapat memberi dukungan bagi emas. Logam mulia ini kerap dipandang sebagai alternatif terhadap mata uang fiat dan aset pemerintah, terutama ketika investor meragukan keberlanjutan kondisi fiskal.
“Jika utang terus meningkat, emas sebagai antitesis mata uang fiat dan aset pemerintah kemungkinan akan semakin diminati,” ujar Shah, dikutip dari Refinitiv.
Meski demikian, arah harga emas belum sepenuhnya jelas. Risalah rapat The Fed bulan lalu menunjukkan para pembuat kebijakan masih berbeda pandangan mengenai alasan dan kebutuhan menaikkan suku bunga. Perbedaan itu membuat pasar harus menimbang risiko inflasi sekaligus kemungkinan pengetatan kebijakan moneter.
Sebagian peserta rapat menilai kenaikan suku bunga diperlukan untuk meredam dampak lonjakan harga energi dan guncangan harga lainnya. Sementara itu, kelompok yang lebih hawkish berpandangan bahwa langkah tersebut dibutuhkan untuk mengantisipasi inflasi yang muncul akibat kuatnya permintaan.
Menurut Shah, risalah itu menegaskan bahwa belum ada arah kebijakan yang benar-benar pasti. Ketidakjelasan tersebut membuat pergerakan emas berpotensi lebih volatil karena investor terus mengubah perkiraan mereka terhadap keputusan bank sentral.
Pasar menakar peluang kenaikan suku bunga
Gubernur The Fed Christopher Waller mengatakan pada Kamis bahwa kenaikan suku bunga tambahan kemungkinan masih diperlukan. Namun, ia juga menyebut bank sentral memiliki fleksibilitas dalam menentukan kecepatannya dan membuka kemungkinan untuk menahan suku bunga pada Oktober.
Perbedaan sinyal ini tercermin dalam perkiraan pasar. Berdasarkan perangkat CME FedWatch, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober hanya 17 persen. Untuk Desember, probabilitasnya jauh lebih tinggi, yakni 81 persen.
Suku bunga yang lebih tinggi biasanya menekan daya tarik emas. Berbeda dari instrumen berbunga, emas tidak memberikan imbal hasil bunga sehingga biaya peluang untuk memegangnya dapat meningkat ketika suku bunga naik. Karena itu, setiap petunjuk mengenai keputusan The Fed menjadi perhatian penting bagi investor logam mulia.
Di sisi lain, tingginya imbal hasil obligasi AS tidak otomatis menghapus minat terhadap emas. Kekhawatiran atas utang pemerintah dapat menjadi faktor penyeimbang, sementara ketidakpastian kebijakan moneter membuat investor sulit memastikan arah pasar dalam waktu dekat.
Risiko geopolitik ikut menjadi perhatian
Pergerakan emas juga berlangsung di tengah meningkatnya risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah. Kapal tanker menghadapi risiko serangan dan intimidasi yang lebih tinggi ketika mengangkut pasokan penting melalui Selat Hormuz.
Situasi itu terjadi setelah Iran mengeluarkan peringatan baru bahwa pihaknya akan memblokir jalur pelayaran yang tidak mendapat izin. Informasi tersebut disampaikan sejumlah sumber dalam laporan yang dikutip CNBC Indonesia.
Berbeda dari emas, harga perak masih berada dalam tekanan. Perak ditutup turun 1,33 persen pada Kamis ke US$ 59,34 per troy ons. Pelemahan itu membuat harganya kembali berada di bawah US$ 60 dan memperpanjang penurunan menjadi 3,8 persen dalam dua hari.
Pada Jumat pukul 06.34 WIB, perak mulai bergerak naik 0,25 persen ke US$ 59,50 per troy ons. Pergerakan yang berbeda antara emas dan perak menunjukkan bahwa pasar logam mulia masih merespons beragam faktor, mulai dari ekspektasi suku bunga hingga risiko geopolitik.
Dalam waktu dekat, perhatian investor akan tertuju pada sinyal lanjutan dari The Fed dan perkembangan kekhawatiran terhadap utang AS. Kedua faktor itu dapat menentukan apakah kenaikan emas kali ini berlanjut atau hanya menjadi jeda sementara setelah koreksi tajam.
